Tinggal menunggu waktu, bulan yang dinanti akan segera tiba. Marhaban yaa Ramadhan. Bulan penuh barokah dan ampunan.
Puasa menahan haus, lapar dan sikap. Merasakan kekeringan di tenggorokan seperti para pengamen jalanan.Merasakan lapar seperti orang2 jalanan yang harus mengemis demi sesuap nasi. Semua itu agar kita dapat bersyukur atas hidup yang tlah di berikan oleh Allah SWT.
Menjaga emosi, menghilangkan suudzon, bersikap jujur harus dimulai pada bulan ini dan smoga akan berlanjut pada bulan selanjutnya.
Belajar tentang ilmu dunia dan akhirat harus balance agar mendapatkan kemenangan hakiki. Dunia dapat namun akhirat juga tak dikesampingkan. Bahkan seharusnya akhirat diutamakan. Semoga bisa hal tersebut diperoleh pada bulan Ramadhan ini.
..Telaga Warna, Kompleks Candi Dieng, Telaga Menjer, Resto Ongklok..
Setelah asyik mengamati cantiknya matahari pagi di puncak Dieng, kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Warna. Menurut tour guide kami, telaga ini mirip seperti di Florest, NTB. Bisa berubah menjadi kuning, merah, hijau maupun putih dikarenakan karena unsur belerang didalamnya. Cantik bukan maen menurut kacamata saya
Di sekitar Telaga Warna juga terdapat beberapa gua yang masih digunakan bersemedi. Terlihat dari adanya dupa dan bunga mawar di area gua. Konon katanya ada mantan presiden yang pernah datang ke gua2 keramat itu. Hmmm..
Lanjut ke objek selanjutnya adalah Kompleks Candi Dieng. Candi ini dibangun pada Dinasty Sanjaya, menurut ingatan saya ketika sekolah dulu. Dilihat dari bangunan candinya yang berbentuk kotak dan beratap lancip nampak sekali bahwa ini photo Candi Hindu.
Di sekitar Candi juga terdapat Dombos-sejenis domba Aussie menurut saya photo. Konon katanya Domba ini dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda untuk dikembangbiakkan di nusantara. Ada beberapa tempat yang dijadikan percobaan. Namun hanya di Wonosobo domba2 ini berkembang biak. Maklum saja jika tiap satu ekor dombos di nilai tinggi secara rupiah, 20juta. Beberapa tahun yang lalu domba2 ini masih diperbolehkan di impor ke negri jiran-Malaysia, kini impor dombos dilarang karna untuk mengembangbiakkannya sulit.
Puas berfoto di Kompleks Candi Dieng, kami pun melanjutkan perjalanan ke Telaga Menjer. Sampai di tempat, Nitnot beberapa kali berkata “mirip Bedugul di Bali”. Saya sendiri lupa bagaimana wajah Bedugul karna terakhir kesana ketika SMA dan yang saya ingat hanya anjing saja, di Bali kan banyak anjing berkeliaran, takuuuuuuuuuuuuuuuuutt!!. Beruntungnya letak Telaga Menjer bukan di Bali jadi saya merasa safety (^^) Tak bisa pungkiri alam Telaga Menjer amat elok terlihat, danaunya masih jernih dan juga hijaunya gunung di sekeliling telaga menambah cantik suasana. Untuk melihat keseluruhan eloknya Telaga Menjer bisa menggunakkan perahu motor dengan membayar Rp 5000,- murah bukan??!!!
Capek bermaen-maen di Telaga Menjer, kami makan siang di Restoran Ongklok. Tentu saja kami disuguhi mie ongklok, makanan khas Wonosobo. Rasanya yummii, uenak poul. Apalagi kondisi perut kami keroncongan setelah naek turun tangga di Telaga Menjer. Mie ongklok terdiri dari mie kuning yang dikasih daun bawang, ebi dan beragam bumbu kemudian dikasih sate ayam dan tempe mendoan. Setau saya biasanya sate kambing bukan ayam. Ntah mengapa diganti sate ayam (^^)?? Mungkin tau saya mau ikutan makan dan gak doyan sate kambing, hehehe.
Setelah selesai makan kami mendapatkan masukan baru dalam dunia bisnis. Adanya suatu cara bisnis baru yang dipresentasikan oleh team Bowo Jenggot. Bisnis Bowo Jenggot ternyata telah merambah ke negara tetangga. Hebat nian!! Untuk info lebih lanjut tentang Bowo Jenggot bisa kontak langsung ke saya, nanti saya pinjami buku yang dikasih oleh team Bowo Jengot (^^)
Akhirnya seluruh rangkaian acara pun berakhir. Kami beranjak kembali ke penginapan untuk segera prepare menuju peraduan masing2. Saya sendiri tak langsung pulang, namun melanjutkan perjalanan ke Purbalingga, rumah Nenek. Sebelum pulang, para blogger mendapatkan bingkisan minuman seduh purwaceng dan manisan carica dari panitia. Sungguh baek hati para panitia, sudah memberikan wisata gratis dan juga oleh2 (^^) Denger2 kebanyakan panitia merupakan lulusan SMA tahun 2009 yang sedang mengisi masa liburan sebelum akhirnya kuliah ntarr.. Salut!! Two thumbs up!! (^^)Vvv
Yuppy, it’s time for preparing to de next journey..Dieng, I’m coming..gemuruh saya dalam hati. Sekalipun udara di Wonosobo pagi itu dingin sangat. Saya menikmati agenda wisata selanjutnya yaitu menuju Dieng. Kami akan melihat kuasa Tuhan berupa fenomena alam yang paling saya suka “sunrise”. Dengan hanya menyikat gigi (hahaha, jorok!!) dan memakai baju setebal mungkin saya amat sangat PeDe melewati waktu menuju Dieng. Sebelum sampai tempat tujuan kami sempat berhenti sejenak di Masjid Muttaqien. Airnya..brrr..duingiiiiiiiiiiiiiiiiiin sangat. Namun, salut saya pada masyarakat sekitar yang tetap bersemangat melaksanakan solat Subuh di masjid sekalipun udara sangat dingin. Terbukti tempat jamaah putri cukup penuh ditempati ibu2 dan ada seorang anak kecil. Anak kecil itu berparas imut2 dan berkulit kemerahan seperti layaknya orang di dataran tinggi. Lucu dan juga shalihah gumam saya. Saya sendiri gak pernah solat di masjid **M.A.L.E.S** kecuali ketika bulan Ramadhan. Hehehehe, jadi maluu.. kalah dengan adek kecil..
Selesai solat kami pun melanjutkan perjalanan. Saya termasuk rombongan yang paling telat (hummm..maaf brad buat kawan2 yang satu mobil dengan saya) berhubung antri di kamar mandi. Di perjalanan saya bertanya pada Bapak sopir tentang jarak tempuh perjalanan menuju puncak Dieng. Beliau berkata, “sekitar 500 meter jalan kaki, Mbak”. Emang bener 500 meter tapi vertikal-miring jadi kerasa capeknya. Sampai saya harus dibantu oleh blogger nasional Mas Andi MSE
(matur tengkiu nggih) di salah satu tempat yang terlalu miring. Namun, semua rasa capek itu terbayar ketika melihat sunrise yang masih tampak malu2 dari balik deretan pegunungan. Maha Besar Allah atas sgala kuasaNya, telah memberikan kecantikan alam yang begitu elok pada bumi Dieng.
Di tempat ini kami cukup lama menikmati alam. Ada yang hanya diam sembari menikmati kencantikan alam, ada yang foto2 dan ada pula yang melanjutkan perjalanan menuju tempat yang lebih tinggi. Saya sendiri memilih untuk di puncak pertama tanpa meneruskan perjalanan berhubung pake sandal jepit (tanpa persiapan banget, masa naek gunung gak pake sepatu kets!!). Saya lihat di sekitar saya ada turis dari Thailand dan Swiss. Saya sempat berkenalan dengan backpacker dari Swiss, namanya Irene. Dia terlihat ramah dan tau banyak tentang Indonesia khususnya Wonosobo, jadi maluu.. masa’ pengetahuan tentang negri sendiri kalah dengan wisatawan asing.. Pantas saja banyak aset berharga negri ini yang akhirnya dipatenkan oleh negara laen (TT) kebanyakan manusia Indonesia seperti saya, tak mau menjaga aset bangsa sendiri.
Turun dari puncak Dieng, matahari mulai bersinar terang menemani perjalanan pulang kami. Kali ini jalanan sudah tak selicin tadi pagi. Mungkin juga karna kaki kami sudah terlatih mengikuti arus perjalanan di Dieng. Tiba di bawah, kawan2 blogger tengah asyik berfoto “yahh, saya ketinggalan”..
Di perjalanan menuju objek selanjutnya banyak terlihat tumbuhan carica yang merupakan tanaman khas Wonosobo. Selaen itu banyak kacang babi, tanaman khas Wonosobo juga, yang menurut saya mirip kacang koro. Chiwpun memperlihatkan banyaknya tumbuhan nan tumbuh di bebatuan..Jadi teringat lagu-nya Bimbo “..kata orang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman..” kira2 begitu lagunya. Namun sayang masyarakat Dieng tak mensyukuri alam yang mereka punya. Mereka dengan semena2 membabat hutan menjadi ladang. Semua pohon yang ada, mereka tebang diganti tanaman kentang. Pantas saja malam sebelumnya ketika di Pendopo, Bapak Bupati berkata, “setengah mata air di Wonosobo telah mati dalam beberapa tahun terakhir”. Lha hutannya saja sudah gundul..Humm, tapi kita tak boleh menyalahkan masyarakat Dieng sepenuhnya..Bagaimanapun mereka butuh makan ditambah kurangnya pendidikan membuat mereka tak mengerti akan arti menjaga alam.
Berhubung jalan utama sedang ada perbaikan. Kami pun melewati sebuah jalan alternatif. Ada beberapa bagian jalan yang belum di aspal, terlihat potret Indonesia “bagaimana pembangunan belom merata”. Parahnya lagi ada pipa gas milik Pertamina yang sudah rusak oleh tangan2 jahil manusia. Di perjalanan saya juga melihat ada TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang dibiarkan terbuka begitu saja tanpa adanya usaha untuk melakukan daur ulang.
Dieng Plateu nan indah namun sayang kurang terawat..Potensi wisata di Dieng tampak luar biasa hanya kurang tangan2 manusia untuk menjaga dan memperindahnya..
Saya slalu tersenyum memandang dunia ^^ pantang bagi saya menangis maupun hancur!! Emang masa itu pernah saya lalui, tapi semua hanyalah masa lalu. Kini saya bangkit dg SEMANGAT BARU (^_~)V